Archive

Archive for the ‘Liputan media’ Category

Berinvestasi Melalui Kebun Emas

April 30th, 2010 admin No comments

Palembang - Bosan investasi melalui deposito atau kepemilikan surat-surat berharga. Bank BRI Syariah Palembang mengajak mahasiswa, pebisnis dan wirausaha untuk berinvestasi melalui program berkebun emas. Model investasi ini diyakini menjadi trend terbaru perbankan pada 2010.
Kepala Cabang BRI Syariah Sumsel, Yosep Kardinal kepada Sripo mengatakan model investasi ini

termasuk menguntungkan. Lantaran nasabah hanya menyimpan uang dalam bentuk emas selama dua tahun. Nasabah hanya dibebankan biaya sewa simpan. Nilainya pun tergantung lamanya waktu simpan. Pihaknya menyediakan jangka waktu minimal dua tahun hingga enam tahun. “Lama kelamaan kan nilai emas itu akan naik, jadi kita sendiri tidak sadar ada keuntungan bisa

didapatkan. Daripada emas disimpan sia-sia atau dipakai sia-sia,” kata Yosep, Rabu (3/3).
Dikatakannya, model investasi berkebun emas sistemnya sama dengan gadai emas. Misal ada satu nasabah menggadaikan emasnya. Otomatis nasabah itu akan mendapatkan nilai gadai dari bank. Nah nilai inilah, lanjut Yosep, dibelikan kembali emas, lalu digadaikan kembali. “Begitu seterusnya, lama kelamaan jumlah emas yang digadaikan akan bertambah tapi nilainya terus mengecil,inilah yang saya namakan teori berkebun emas,” kata Yosep.

Dengan model simpan dan gadai ini, tentu setiap tahun nilai emas itu akan bertambah. Kalaupun menurun jumlahnya juga cenderung kecil dibandingkan nilai kenaikan. “Jadi kalau berkebun emas, nilai emas yang dia miliki akan bertambah terus. Nasabah hanya dibebankan biaya simpan semata, sewaktu-waktu jika ingin diijual bisa asal waktu ambilnya sesuai dengan perjanjian awal,” kata Yosep.

Untuk sistem gadai emas, Yosep menjelaskan pihaknya memberikan taksiran maksimal 90 persen dari ukuran emas. “Kalau dia ikut program kebun emas, otomatis ukuran emas akan menurun tapi unitnya bertambah. Dikatakan Untung karena modalnya cuma satu unit emas saja bisa membuahkan beragam emas lainnya seperti orang berkebun,” kata Yosep.

Bank BRI Syariah Palembang sudah menerapkan sistem tersebut sejak tiga bulan lalu. Walhasil dalam jangka tiga bulan pihaknya berhasil menghimpun dana hingga Rp 2,2 miliar. “Ada sekitar 50 nasabah aktif dengan rincian 40 persen tergabung dalam gadai dan 60 persen berinvestasi melalui kebun emas,” katanya seraya mengatakan target setahun terhimpun dana hingga Rp 8,5 miliar dengan taksiran Rp 500 juta/bulan.

Seminar kebun emas sendiri dijadwalkan pada 13 Maret mendatang di Hotel Swarna Dwipa Palembang sejak pukul 14.00. “Kita targetkan ada sekitar 200 peserta yang bakal ikut. bagi yang berminat bisa langsung menghubungi kantor BRI Syariah dengan biaya Rp 100 ribu/orang. Peserta mendapat fasilitas seminar kit, sertifikat,” kata Yoseph seraya mengakui kegiatan ini akan diisi narasumber Rully yang merupakan trainer Most Wanted se-Indonesia yang sukses menerapkan keuntungan dengan kebun emas.sripo

Incoming search terms for the article:

Categories: Liputan media Tags:

Ayo Berkebun Emas (Bagian I)

April 3rd, 2010 admin No comments

Liputan  utama Majalah DUIT! No 01/V/Januari 2010 (Halaman 30-31)

Investasi emas selalu menarik. Hanya saja investasi di logam mulia ini hanya menarik juga untuk investasi jangka panjang. Rully Kustandar menemukan cara berinvestasi emas yang bisa dilakukan dengan efisien. Polanya ini sedang populer sekarang.

Emas selalu punya daya tarik besar. Dibuat aneka bentuk perhiasan laku dijual dan jadi dambaan banyak orang. Tak diapa-apalan pun tetap dicari orang karena emas adalah produk invetasi yang dibilang abadi dan harganya cenderung menggiurkan. Banyak ibu-ibu rumah tangga menyimpan hartanya dalam bentuk emas. Ketika masa paceklik tiba emas simpanan jadi penyelamat keluarga. Dalam ukuran yang lebih besar banyak orang yang membeli emas batangan sebagai tabungan.

Rully Kustandar, 41 tahun, punya cara berbeda memperlakukan emas sebagai produk investasi. Awalnya ia mengutak-atik satu rumusan baru untuk investasi di logam mulia emas beberapa tahun yang lalu. Rumusan itu ia coba sejak tahun 2007 dan sejauh ini hasilnya tokcer. “Tapi ini bukan untuk para spekulan. Investasi di emas dengan konsep saya ini harus dilakukan dengan menggunakan uang yang benar-benar uang lebih. Artinya bukan uang yang dialokasikan untuk kebutuhan dasar sehari-hari,” paparnya mengingatkan rambu-rambunya.

Nilai Emas Tak Berubah

Menurut dia, sejak lama ia mengandalkan properti sebagai tempat investasinya. Namnun investasi di properti likuiditasnya kurang. Jika ada kebutuhan mendadak akan perlu butuh waktu lama untuk mencairkannya. Karena itu ia butuh investasi lain yang mudah pencairannya untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak. Emas tiba-tiba saja menjadi incarannya ketika ia mendengar kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Pada suat ketika seorang sahabat Rasul diminta membeli seekor kambing oleh Rasulullah SAW dengan dibekali uang satu dinar. Ia membeli kambing dipasar. Ketika akan pulang kambing yang dibelinya itu ada yang menawar. Lalu ia jual dengan harga 2 dinar. Sahat itu kembali lagi ke pasar dan membeli satu ekor kambing dan menyerahkannya ke Rasulullah beserta uang satu dinar.

Harga kambing yang dijual sahabat Rasulullah dua dinar itu, kata Rully, karena kepintaran sahabat menjual kambingnya. Yang menarik soal harga seekor kambing saat itu yang satu dinar. Uang satu dinar adalah satu koin emas 22 karat seberat 4.25 gram yang sampai kini beratnya tidak berubah. Ia coba menghitung harga emas saat ini. Harga emas 22 karat seberat 4.25 gram saat ini dalam rupiah berarti sekitar Rp. 1.4 jutaan. “Ternyata harga kambing saat kurban kemarin sekitar Rp. 1.4 jutaan juga. Bayangkan berarti setelah 1400 tahun nilai tukar emas tak berubah. Jika kita membeli kambing dengan uang dinar saat ini akan membutuhkan satu dinar juga,” kata Rully. Tetapi jika konversinya kurs lain maka h arga emas akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan karena faktor devaluasi mata uang yang jadi penukarnya.

Ia punya illustrasi lain mengenai hubungan ini. Seorang kawannya menanamkan investasi sebesar Rp. 25 juta pada suatu instrumen keuangan tahun 1990. Nilai investasi itu pada tahun 2015 dijanjikan akan berkembang menjadi Rp. 175 juta. Nah, jika pada tahun 1990 uang sebanyak itu dibelikan emas, hasilnya akan menjadi 1kg emas. Jika emas 1kg itu dicairkan saat ini maka nilainya akan mencapai sekitar Rp. 370 juta karena dalam kurs rupiah harga emas telah meningkat beberapa kali.

Dari situlah ia berpikir, bagaimana memanfaatkan emas sebagai lahan untuk investasi jangka panjang. Kebetulan pada tahun 2007 ada bank yang meluncurkan layanan gadai emas batangan. Lalu ia mengutak-atik perhitungannya untuk menemukan pola yang kompetitif. Dari sinilah lahir pola investasi yang ia sebut “Berkebun Emas”

bersambung ke tulisan berikutnya… Bagian II

Incoming search terms for the article: